29 C
Semarang
Minggu, 17 Januari 2021

Dapat Bisikan Gaib, Tega Gantung Ibu di Pohon Rambutan

Menarik

Sektor Pertanian Perkuat Industri Hulu

WONOSOBO, Radarkedu.Id - Tim Kaukus Lingkungan Kabupaten Wonosobo mewacanakan konsep pemberdayaan ekonomi bagi kelompok tani di Desa Sigedang, Kecamatan...

PMI Kota Magelang Persiapkan Donor Plasma Konvalesen

MAGELANG, Radarkedu.Id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Magelang mulai mempersiapkan dan mengkaji donor plasma darah konvalesen. Kabid Pelayanan Darah...

Harga Kedelai Tinggi, Perajin Tahu Tempe Hanya Bisa Bertahan

WONOSOBO, Radarkedu.Id - Melonjaknya harga bahan baku kedelai sangat berimbas pada sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM). Utamanya bagi...

TEMANGGUNG, Radarkedu.Id–  Anak dan menantu menghabisi nyawa ibunya dengan dalih mendapatkan bisikin gaib. Untuk menghilangkan barang bukti, pelaku pasangan suami istri SP, 48, dan HM, 32, menggantung ibunya, Naruh, 75, di pohon rambutan belakang rumahnya di Dusun Jeketro, Desa Karangwuni Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

“Jadi motif menurut pengakuan SP karena mendapatkan bisikan gaib. Sementara menurut HM karena masalah ekonomi,” ungkap Kapolres Temanggung AKBP Muhamad Ali.

Namun demikian masalah motif pembunuhan yang terjadi pada Sabtu (22/8/2020)  itu masih didalami. Disampaikan kapolres Ali, pengungkapan kasus tersebut bermula saat pihaknya mendapatkan informasi adanya laporan gantung diri. “Selanjutnya kami mendatangi TKP untuk menyelidikinya,” terangnya.

Setelah dilakukan penyelidikan ternyata petugas menemukan sejumlah kejanggalan jika itu murni gantung diri. “Kejanggalannya, tinggi dahan pohon sekitar 2 meter sementara di TKP tidak ada pijakan. Kemudian korban ini jika berjalan selalu pakai tongkat, tapi tongkatnya kita temukan di dalam rumah,” beber Kasatreskrim AKP M Alfan Armin.

Selain itu pihaknya juga menemukan bekas jeratan yang tidak seperti jeratan orang gantung diri. “Dari situ kami simpulkan korban meninggal karena lemas bukan gantung diri,” tegasnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil pemeriksaan korban sebelum tewas sempat dipukuli kepalanya dengan tongkat yang sering dibawanya. Tak cukup itu ia juga dijerat dengan tali oleh anaknya. “Setelah itu SP dan HM menggantungkan korban di pohon rambutan,” imbuh Ali.

Kedua tersangka dijerat 44 ayat 3 UU no 23 tentang kekerasan dalam rumahtangga atau pasal 338 KUHP. “Untuk ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” tegasnya. (tbh/lis)

 

 

Berita sebelumyaIbu-Ibu PKK Kalinegoro Gebrak 1000 Masker
Berita berikutnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Sektor Pertanian Perkuat Industri Hulu

WONOSOBO, Radarkedu.Id - Tim Kaukus Lingkungan Kabupaten Wonosobo mewacanakan konsep pemberdayaan ekonomi bagi kelompok tani di Desa Sigedang, Kecamatan...

More Articles Like This